JapanLunatic - Sexuality in Manga
土曜日, 03-12-2016, 1:44:31 PM
Welcome, Guest

















Jlun buddy
tentunya sering bertanya "Mengapa manga Jepang banyak yang menyertakan unsur porno didalamnya biarpun sedikit ? padahal diketahui bahwa manga itu sendiri adalah konsumsi anak-anak jepang juga..”
Sebenarnya, walaupun bagi orang Indonesia kebanyakan komik Jepang dianggap berbau porno, dari standar Jepang sendiri itu dianggap bukan porno. Mereka menganggap itu hanya sekadar gambar wanita cantik disukai oleh pembaca laki-laki.

Sejak zaman Edo, gambar porno sudah menjadi satu unsur yang penting dalam kesenian Jepang. Hampir semua pelukis besar Ukiyoe (grafis cukilan kayu tradisional Jepang), misalnya KITAGAWA Utamaro (1753 - 1806), KATSUSHIKA Hokusai (1760 - 1849), SUZUKI Harunobu (? - 1770), melukis porno.
Ukiyoe ini ternyata berdampak besar kepada pelukis Barat, misalnya Gaugin dan Gogh. Sekarang baik Ukiyoe biasa maupun Ukiyoe porno dinilai tinggi sebagai kesenian di seluruh dunia, dijual-belikan dengan harga mahal sekali. Tentu saja, meskipun dinilai sebagai kesenian yang bernilai tinggi, di sekolah di Jepang tidak mengajar ukiyoe yang porno. Murid sekolah hanya belajar ukiyoe biasa.

Tentang ukiyoe ini sering dianggap sebagai hal yang membenarkan atau hal yang menjadi cikal bakal manga porno. Namun anggapan itu salah. Manga porno tersebut dikategorikan dalam kategori tersendiri di jepan yang mulai muncul pada akhir tahun 1960-an, dan ketika itu muncul unsur seksual dalam komik untuk anak, seperti karya NAGAI Go^ "Harenchi Gakuen" artinya "Sekolah yang tidak senonoh".

Pada saat ini manga jepang berbau porno sangat digemari di seluruh dunia. Di negara Timur Tengah juga disukai anime Jepang yang mengandung unsur erotisitas.

Lain halnya di Indonesia, keberadaan manga dan hal lain yang berbau porno tidak begitu mempengaruhi moral masyarakat Jepang. Setidaknya 300 tahun lalu ukiyoe porno sudah beredar cukup luas di Jepang. Kalau moralnya rendah, mana mungkin Jepang menjadi negara modern melalui Restorasi Meiji ?

Dilihat dari pandangan orang Amerika, katanya porno Jepang lebih brutal daripada porno Amerika. Tetapi di Jepang kasus perkosaan jauh lebih sedikit daripada Amerika. Di Arab Saudi mungkin tidak beredar porno, tetapi orang Indonesia sudah tahu betapa banyak terjadi tragedi TKW Indonesia di sana. Tingkat moral dan angka kriminal seksual tidak selalu tergantung pada keberadaan pornografi. Soal moral itu masalah hati. Moral tidak bisa didorong oleh undang-undang.

Pada gambar diatas saya sertakan okita.
Okita adalah nama pelayan salah satu mizutyaya (kafe zaman Edo) namanya Nanbaya.
Pada zaman Utamaro 200 tahun lalu sampai zaman sekarang, pelayan kafe menjadi tema lukisan.
Salah satunya adalah para pelayan Maid café. Maid cafe adalah kafe yang pelayannya berseragam seperti maid saat melayani tamu. Sekarang maid cafe ada banyak di sekitar kota Akihabara, kota komputer dan alat listrik, tanah suci untuk Otaku.