JapanLunatic - Haiku dan Kigo
土曜日, 10-12-2016, 9:40:28 PM
Welcome, Guest
Haiku dan Kigo

Haiku atau secara harfiah disebut dengan ayat Haikai, adalah sebuah bentuk puisi Jepang, yang terdiri dari 17 mora (on), yang terbagi dalam tiga baris yang masing-masing barisnya memiliki pola 5, 7, 5 mora. Meskipun Haiku sering dikatakan memiliki 17 suku kata, ini dirasa kurang tepat karena sesungguhnya suku kata dan mora tidak sama.
Dalam Haiku biasanya berisi Kigo (referensi musim).
Kigo adalah bagian dari Haiku yang tak bisa dilepaskan begitu saja, dalam artian Kigo merupakan salah satu prasyarat dalam membuat Haiku.
Kigo dapat diartikan sebagai penanda musim, atau dapat didefinisikan sebagai sebuah kata atau frase kunci yang melambangkan atau menyiratkan musim.
Kigo sering ditulis dalam bentuk metonimi (tersirat), dengan begitu akan sulit bagi seseorang yang tidak memiliki referensi budaya Jepang untuk mengerti tentang Kigo.

Contoh di bawah ini adalah contoh Kigo dari Haiku terkenal yang ditulis oleh Matsuo Basho:
  • KAWAZU
Secara harafiah dapat diartikan katak. Mungkin bagi orang awam tidak akan mengerti bagaimana itu bisa menjadi penanda musim. Di Jepang, saat musim semi merupakan saat dimana katak-katak muncul ke sawah. Jadi Kawazu adalah Kigo dari Haiku yang menandakan musim semi.
  • SHIGURE
Adalah suatu budaya mandi hujan saat akhir musim gugur atau awal musim dingin. Jadi Shigure juga adalah Kigo yang menandakan musim dingin.


Haiku dan Musim Panas

Di Jepang musim panas (natsu) adalah musim yang benar-benar lembab dan panas. Bagi orang Jepang untuk mengatasi kebosanan dan gerah musim panas memiliki cara-cara tertentu seperti lewat penglihatan, pendengaran, dan pengecapan.
Haiku adalah salah satu cara lewat pendengaran untuk mengatasi kebosanan dan kegerahan musim panas sambil memaknai artinya yang memiliki makna yang sangat mendalam.

Berikut adalah contoh Haiku yang sangat terkenal yang sering dinikmati di musim panas. Haiku ini ditulis oleh sastrawan abad ke-17 Matsuo Basho. Haiku Basho adalah Haiku yang sangat terkenal, bahkan sudah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa termasuk bahasa Inggris.

Shizukasa ya
iwa ni shimi iru

semi no koe

Didalam ketenangan, suara semi menembus bebatuan.

  •  Saat suara "Semi” (serangga sejenis tenggeret) mulai terdengar, saat ituah orang Jepang merasa bahwa musim panas benar-benar telah datang. Haiku ini ditulis oleh Basho dalam perjalanannya di tengah musim panas di salah satu kuil yang berada di kawasan pegunungan propinsi Yamagata, suasana begitu diwarnai oleh suara "Semi” yang nyaring bersahutan, solah-olah suara serangga ini menembus bebatuan di kuil tersebut akan tetapi ditengah bisingnya suara serangga ini Basho merasakan kesunyian yang begitu dalam.
"Semi” menghabiskan waktu 7 tahun tinggal di dalam tanah. Begitu menjadi dewasa, serangga ini membuat lubang untuk naik ke permukaan tanah dan kemudian hidup di atas permukaan tanah hanya untuk jangka waktu sekitar 10 hari. Karena fenomena inilah para pujangga sejak zaman dahulu sering menulis tentang "Semi” dan menjadikan mereka sebagai simbol kehidupan yang hanya sementara.
Ketenangan tidak selalu berarti tanpa suara. Sembari mendengarkan suara nyanyian "Semi”, makhluk berusia pendek ini, Basho mampu merasakan suasana ketenangan yang luar biasa dari pegunungan bebatuan di tengah-tengah musim panas.

Natsu kusa ya
tsuwamonodomo ga

yume no ato

Rerumputan musim panas, mengingatkan akan impian para tentara yang berani.

  • Rerumputan dan pepohonan berubah menjadi hijau saat musim panas. Tsuwamonodomo merujuk pada para pahlawan yang meninggal dalam pertempuran bersejarah yang terjadi di tempat dimana sang pujangga berada. Namun tidak ada jejak pertempuran tersisa sedikit pun disana. Tempat pertempuran yang berdarah telah berganti menjadi sawah dan ladang ditambah dengan rerumputan hijau yang tumbuh meluas. Sembari beristirahat di tengah hijaunya rerumputan musim panas, sang pujangga Basho menceritakan tentang fakta kepada kita bahwa sebuah pertempuran bersejarah pernah terjadi di tempat itu.
Di musim panas kita dapat mencium aroma rerumputan yang ditiup semilir angin. Ketika hal ini terjadi Basho ingin mengajak kita untuk merasakan hal yang sama seperti yang dialaminya, yaitu mengenang para pahlawan.

Atsuki hi o
umi ni iretari
mogami gawa

Hari yang menyengat, dialirkan kelaut, oleh sungai Mogami.

  •  Haiku ini memberikan gambaran dinamis tentang teriknya sinar matahari menjelang terbenam di laut Jepang. Dan pada saat yang sama juga menggambarkan suasana berakhirnya hari di musim panas di tempat yang menjadi akhir perjalanan sungai Mogami yang berada di Propinsi Yamagata.


Kigo dan Musim Panas

Diatas sudah dijelaskan mengenai pengertian dari Kigo. Kigo adalah sebuah kata atau frase kunci yang melambangkan atau menyiratkan musim.
Pada ketiga contoh Haiku tersebut bisakah Anda mencari apa Kigo dibalik ketiga Haiku tersebut?
Dengan mengingat bahwa Haiku yang biasanya dinikmati di musim panas sudah pasti juga memiliki Kigo atau penanda musim panas pula bisakah Anda temukan Kigo-nya?
Bacalah kembali penjelasan Haiku di atas tadi, sambil mempertimbangkan bahwa Kigo adalah sebuah penanda musim yang ditulis dalam bentuk metonimi (tersirat).
Lewat penjelasan mengenai unsur budaya pada Haiku di atas, tentunya akan dengan mudah kita menemukan Kigo pada Haiku tersebut.


Pilihlah Kigo yang benar pada Haiku di bawah ini!

1. Shizukasa ya iwa ni shimi iru semi no koe.
a. Iwa
b. Shimi
c. Semi

2. Natsu kusa ya tsuwamonodomo ga yume no ato
a. Natsu kusa
b. Tsuwamonodomo
c. Yume

3. Atsuki hi o umi ni iretari mogami gawa.
a. Atsuki hi
b. Umi
c. Mogami gawa

Sumber:
- wikipedia.org
- nhk.or.jp
- worldkigodatabase.blogspot.com

by admin Hikaru