Sekilas Sejarah Puisi Jepang
--------------------------
Bangsa
Jepang baru mengenal sistem tulisan dan kegiatan tulis menulis pada abad ke-8
Masehi. Dan tulisan-tulisan yang pertama kali adalah berbentuk puisi.
Puisi Jepang dahulu
dibawakan secara lisan yang kemudian pada akhirnya ditulis dan menjadi cikal
bakal buku-buku pertama di Jepang. Semua pria dan wanita Jepang zaman dahulu
menggunakan puisi sebagai alat untuk berkomunikasi. Mungkin itulah sebabnya
mengapa orang Jepang sering memasukkan puisi dalam surat-surat mereka.
Puisi
Jepang memiliki banyak ragam seperti: Haiku, Tanka dan Renga. Secara khusus,
puisi tradisional Jepang ini berisi tentang kehidupan sehari-hari, cinta dan
juga tentang alam. Antara puisi Jepang yang satu dengan puisi Jepang yang lain
memiliki ciri khusus dengan struktur dan susunan atau tata letak yang beragam
pula.
Ragam Puisi Jepang
------------------
1. Haiku
Haiku
adalah salah satu bentuk puisi tradsional Jepang yang paling penting. Haiku
adalah sajak terikat yang memiliki 17 silaba/sukukata terbagi dalam tiga baris
dengan tiap baris terdiri dari 5, 7, dan 5 sukukata. Sejak awalnya, sering
muncul kebingungan antara istilah Haiku, Hokku dan Haikai (Haikai no Renga).
Hokku adalah sajak pembuka dari sebuah rangkaian sajak-sajak yang disebut
Haikai no Renga. Hokku menentukan warna dan rasa dari keseluruhan rantai Haikai
itu, sehingga menjadi penting, dan tak jarang seorang penyair hanya membuat
hokku tanpa harus menulis rantai sajak lanjutannya.
Istilah
Haiku baru muncul 1890an, diperkenalkan oleh Masaoka Shiki. Haiku boleh
dibilang pembebasan Hokku dari rantai Haika. Haiku bisa berdiri sendiri, sudah
utuh pada dirinya tanpa tergantung pada rantai sajak yang lebih panjang. Tokoh
lain dalam reformasi Haiku ini adalah Kawahigashi Hekigoto yang mengajukan dua
proposisi:
1. Haiku akan lebih jujur
terhadap realitas jika tidak ada "center of interest" (pusat
kepentingan, fokus perhatian) di dalamnya
2. Pentingnya impresi
penyair pada hal-hal yang diambil dari kehidupan sehari-hari dan warna-warna
lokal (ini tidak jauh berbeda dari kaidah hokku, TSP)
Singkatnya, sejarah haiku muncul baru pada penggal
terakhir abad ke-19. Sajak-sajak yang terkenal dari para empu jaman Edo
(1600-1868) seperti Basho, Yosa Buson, dan Kobayashi Issa seharusnya dilihat
sebagai hokku dan harus diletakkan dalam konteks sejarah haikai meski pada
umumnya sajak-sajak mereka itu sekarang sering dibaca sebagai haiku yang
berdiri sendiri. Ada juga yang menyebut Hokku sebagai "Haiku klasik",
dan Haiku sebagai "Haiku modern".
Di luar
Jepang, terutama di Barat (mungkin awalnya dari penerjemahan haiku Jepang)
haiku mengalami degradasi(?) dengan absennya beberapa prinsip dasar hokku
(haiku klasik). Pola sajak 17-silaba itu menjadi tidak ketat diikuti. Akhirnya
haiku di barat hanya tampil sebatas bentuk pendeknya saja.
Haiku tidak
memiliki rima/persajakan (rhyme). Haiku "melukis" imaji ke benak
pembaca. Tantangan dalam menulis haiku adalah bagaimana mengirim telepati
pesan/kesan/imaji ke dalam benak pembaca HANYA dalam 17 silaba, dalam tiga
baris saja!
Dalam
bahasa Jepang, kaidah-kaidah penulisan haiku sudah pakem dan harus diikuti.
Dalam bahasa lain, kadang sulit untuk mengikuti pola ini, dan biasanya menjadi
lebih longgar.
Haiku bisa
mendeskripsikan apa saja, tetapi biasanya berisi hal-hal yang tidak terlalu
rumit untuk dipahami oleh pembaca awam. Bebarapa haiku yang kuat justru
menggambarkan kehidupan keseharian yang dituliskan sedemikian rupa sehingga
dapat memberikan kepada pembaca suatu pengalaman dan sudut pandang baru/lain
dari situasi yang biasa tersebut. Haiku juga mengharuskan adanya
"kigo" atau "kata (penunjuk) musim", misalnya kata
"salju" (musim dingin), "kuntum bunga" (musim semi),
sebagai penanda waktu/musim saat haiku tersebut ditulis. Tentu saja kata-kata
penanda musim ini tidak harus selalu jelas-terang.
Bagaimanapun
juga, saat ini haiku di tiap-tiap tradisi bahasa mengikuti aturan-aturannya
sendiri sesuai sifat alami bahasa di mana haiku tersebut dituliskan. Silakan
menulis haiku dengan pertimbangan Anda sendiri, apakah akan mematuhi
aturan-aturan baku dari haiku Jepang yang asli, ataukah lebih mementingkan
esensi atau ruh dari haiku dengan membengkokkan beberapa syariatnya. Di sinilah
tantangan kesulitan, sekaligus kenikmatan menulis haiku.
Bentuk asli
Haiku sebenarnya berasal dari Renga. Haiku adalah puisi Jepang yang pendek
dikarenakan pemotongan atau dalam artian karena adanya pemenggalan pada kalimat
yang sebenarnya memanjang.
Basho
adalah seorang penyair Jepang yang terkenal dan yang juga telah berjasa dalam
mengenalkan Haiku. Walaupun Haiku bertahan hingga saat sekarang ini, namun
orang-orang Jepang lebih menikmati membuat puisi dengan bentuk modern atau masa
kini dibandingkan membuat Haiku
Sejalan
dengan waktu, struktur Haiku mengalami perubahan yang sangat drastis. Pada abad
ke-15 M bentuk asli Haiku berubah menjadi sekitar seratus versi yang
masing-masing dari versi tersebut masih memiliki jumlah suku kata yang spesifik
dengan Renga. Saat ini Haiku terdiri dari 17 suku kata walaupun dengan struktur
yang selalu berubah-ubah di setiap masa.
Haiku dapat
berisi tentang apa saja. Tetapi banyak orang menulis Haiku untuk menceritakan
tentang alam dan kehidupan sehari-hari. Tiga baris Haiku menciptakan rasa yang
menggambarkan emosi dari penyairnya.
Contoh Haiku:
Kono michi ya
Di jalan ini
Yukuhito nashini
Tak tampak seoranpun,
Oki no kure
senja musim gugur
Sebuah karya Basho yang terkenal:
Furuike ya
Di kolam tua
Kawazu tobikomu
Katak melompat masuk
Mizu no oto
Air berbunyi
Sebuah karya Kenji Miyazawa
yang terkenal:
Ame ni mo makezu - tidak
kalah oleh hujan
Kaze ni mo makezu - tidak
kalah dari angin
Yuki ni mo natsu no atsusa
ni mo makenu - tidak kalah oleh salju maupun panasnya musim panas
Joubu na karada wo mochi - dengan
tubuh yang kuat
Yoku wa naku - tanpa nafsu
Kesshite ikarazu - tanpa
amarah
Itsu mo shizuka ni waratte
iru - selalu tersenyum dengan tenang
Ichi nichi ni genmai yon gou
to - setiap hari empat mangkuk beras merah
Miso to sukoshi no yasai wo
tabe - miso dan sedikit sayuran untuk makan
Arayuru koto wo - untuk
segalanya
Jibun wo kanjou ni irezu ni
- tanpa perlu tagihan
Yoku mi-kiki shi wakari - melihat
dan mendengarkan dengan baik sampai
paham
Soshite wasurezu - lalu
tidak melupakan
Nohara no matsu no hayashi
no kage no - di bawah bayangan hutan pohon pinus
Chiisa na kayabuki no koya
ni ite - berada di sebuah gubuk kecil beratap jerami
Higashi ni byouki no kodomo
areba - jika ada anak yang sakit di Timur
Itte kanbyou shite yari - ku
akan pergi merawatnya
Nishi ni tsukareta haha
areba - jika ada seorang ibu yang kelelahan di Barat
Itte sono ine no taba wo oi
- ku akan pergi memikul bebannya (sekarung beras)
Minami ni shinisou na hito
areba - jika ada seseorang yang hampir mati di Selatan
Itte kowagaranakute mo ii to
ii - ku akan pergi dan mengatakan tidak perlu takut
Kita ni kenka ya soshou ga
areba - jika ada pertengkaran atau pelanggaran hukum di Utara
Tsumaranai kara yamero to ii
- menyuruh mereka menghentikannya karena itu hal yang tak berarti
Hidori no toki wa namida wo
nagashi - membiarkan airmata jatuh ketika ada kekeringan
Samusa no natsu wa oro-oro
aruki - berjalan mengembara ketika dinginnya musim panas
Minna ni deku-no-bou to
yobare - disebut bodoh oleh semua orang
Homerare mo sezu - tanpa
dipuji
Ku ni mo sarezu - tanpa
menyalahkan
Sou iu mono ni watashi wa
naritai - aku ingin menjadi orang yang seperti itu
2. Tanka
Ragam lain
dari puisi Jepang adalah Tanka yang usianya lebih tua dari Haiku tetapi tidak
seterkenal Haiku. Tanka telah dikenal sebagai salah satu jenis puisi di Jepang
sekitar 1300 tahun. Tanka biasanya dibuat setelah selesainya sebuah peristiwa,
kejadian atau suatu perayaan yang spesial.
Tanka
cenderung lebih panjang dari Haiku, dan itu memberikan ruang kapada para
penyair untuk lebih dapat mengekspresikan perasaannya dengan lebih dalam.
Secara
khusus, Tanka ditulis atas perasaan seseorang. Dalam menulis puisi jenis ini,
pertama yang harus ditulis adalah tentang sesuatu yang disenangi dan memiliki
hasrat atas sesuatu tersebut. Sebagai contoh yaitu tentang alam, tentang suatu
tempat, keluarga, cinta atau kehidupan sehari-hari yang menyenangkan dan
merupakan sesuatu yang dianggap benar.
Menulis
Tanka dengan baik akan menciptakan kecemerlangan penggambaran atau mendapat
kesan yang mendalam yang sangat berkaitan dengan perasaan. Jenis puisi seperti
ini memberikan penyair kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya dengan cara
yang unik.
Syair di bawah ini merupakan
Tanka yang terdapat di dalam kitab antologi puisi waka berjudul Man'yōshū 万葉集 (koleksi sepuluh ribu daun) karya Ōtomo no Yakamochi:
kedashiku mo - mungkin
hito no nakagoto - mulut
yang membisu
kikase ka mo - mungkinkah
terdengar
kokodaku matedo - sebab aku
telah menunggu lama
kimi ga kimasanu - kau tak
kunjung datang
3. Renga
Ragam puisi
Jepang lainnya lagi adalah Renga. Berdasarkan sejarahnya, puisi Jepang
berkembang terus. Seiring waktu, tekniknya selalu mengalami perkembangan. Dari
seorang penyair, kemudian menjadi dua orang penyair dapat bekerja sama dalam
menciptakan sebuah puisi di waktu yang bersamaan, konsep ini dikenal dengan
Renga.
Latar
belakang ide pembuatan Renga ini yakni salah seorang penyair menuliskan bagian
yang menjadi idenya dan penyair lainnya menuliskan kelanjutan puisi dari ide
penyair yang pertama dengan idenya sendiri. Dua orang penyair menyatukan
ide-ide mereka membentuk sebuah puisi, kegiatan ini di waktu dahulu menjadi
sebuah hiburan yang populer. Banyak orang berpikir bahwa membuat Renga sama halnya
bermain dalam sebuah kompetisi. Dalam mengikuti permainan seperti ini – seperti
halnya sebuah kebiasaan, dibutuhkan pemikiran yang cepat dan dengan rasa humor
yang baik untuk dapat bermain Renga. Renga lebih dulu jauh dikenal dari ragam
puisi Jepang lainnya dan mencakup sekitar 100 versi.
4. Senryu
Senryu (川柳, senryuu) memiliki
struktur fisik yang sama dengan haiku yaitu terdiri dari tiga baris dengan
jumlah mora tiap barisnya masing-masing 5-7-5 (go-shichi-go). Namun, isi suatu
senryu lebih ringan dan bahkan bisa saja lawakan. Dalam senryu juga tidak ada
aturan kompleks pada haiku misalnya mengenai kigo (季語, kata musim). Dengan
kata lain, kalau haiku merupakan bentuk puisi elit yang serius, senryu bisa
digunakan untuk mengekspresikan diri secara santai atau sekedar
bersenang-senang.
Nama senryu sendiri diambil
dari pujangga yang mencetuskan jenis puisi ini yaitu Karai Senryuu (柄井川柳). Kanji pada senryu
berarti dedalu sungai.
dorobou o - Pencuri
toraete mireba - Saat kutangkap
waga ko nari - Anakku
sendiri
Contoh senryu di atas terbagi menjadi tiga baris. Jumlah mora tiap
barisnya 5 (どろぼうを), 7 (とらえてみれば), dan 5 (わがこなり). Jadi aturannya hanya itu saja, tiga baris dengan jumlah mora 5-7-5. Isinya
bebas.
Perhatikan juga bahwa nari
adalah bentuk kuno dari deklaratif da.
Contoh senryu lain:
gakkou wa - sekolah
minna iru kara - semua teman
ada di sana
sugoi n da - jadinya asyik
......
hon yonde - membaca buku
ooki na yume ga - mimpi
besar
umareta yo - terlahir
......
nendomatsu - akhir tahun
fiskal
dare ga kimeta no - siapa
yang menetapkannya?
sangatsu ni – pada bulan Maret
......
Puisi berikut merupakan
puisi yang dianggap dibuat oleh Emperor Yūryaku | 雄略天皇 | Yūryaku-tennō (abad ke-5)
Romaji:
ko mo yo
miko mochi
fukushi mo yo
mibukushi mochi
kono oka ni
na tsumasu ko
ie kikana
na norasane
soramitsu
yamato no kuni wa
oshinabete
ware koso ore
shikinabete
warekoso mase
ware ni koso wa
norame
ie o mo na o mo
Terjemahan:
Keranjangmu,
keranjang mungil
Tajakmu terlalu kecil
Nona, yang menjumput bunga
di gigir bukit
Kepadamu aku bertanya: Siapa
namamu?
Seluruh negeri Yamato
Luas nian kuasaku
jauh sungguh pengaruhku
Maka, katakan padaku
Di mana rumahmu, siapa
namamu?
Berbagai sumber
Salam,
Headchief of Japanlunatic
Adeluna